Melalui implementasi B50, porsi pemanfaatan minyak sawit untuk sektor energi semakin besar. Bagi industri sawit, kebijakan tersebut membuka ruang penyerapan CPO di pasar domestik.
Di sisi lain, pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar dapat mengurangi kebutuhan Indonesia untuk mendatangkan energi dari luar negeri.
Pertamina memperkirakan program B50 dan pengembangan bioetanol berbasis tebu secara keseluruhan berpotensi menyerap hingga 2,1 juta tenaga kerja di Indonesia.
Dari sisi lingkungan, program tersebut juga diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon sekitar 44 juta ton CO2.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi berbasis komoditas domestik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar.
Ada pula dampak ekonomi, ketenagakerjaan, pengurangan impor, hingga pengurangan emisi.
Selain sawit, Pertamina juga mengembangkan bioetanol dengan memanfaatkan molases atau tetes tebu sebagai bahan baku.
Bioetanol tersebut digunakan dalam produk Pertamax Green 95 dengan campuran bioetanol 5% atau E5.
Agung menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam dan kondisi tanah yang mendukung pengembangan energi berbasis tanaman produksi dalam negeri.
Pemanfaatan tebu dan sawit pun memiliki tujuan yang sejalan, yakni meningkatkan produksi energi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Bukan Sekadar Biodiesel, Pertamina Sebut Sawit Jadi Mesin Penghemat Devisa RI hingga Rp170 Triliun
Diskusi pembaca untuk berita ini