Yogyakarta, elaeis.co - Sebanyak 56 orang mahasiswa penerima beasiswa SDM sawit angkatanpertama di INSTIPER Yogyakarta mengikuti uji kompetensi okupasi asisten kebun kelapa sawit.

Kegiatan ini dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Perkebunan dan Hortikultura
Indonesia atau LSP PHI.

LSP PHI mengirimkan 3 orang asesor yaitu Andi Yusuf Akbar, S.Sos., M.I.Kom, Ir. Heri Moerdiono, M.Eng, dan Dr. Ir.Lili Dahliani, MM.,M.Si.

Uji kompetensi dilakukan selama 2 hari di kampus Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. Peserta mengikuti serangkaian tes mulai dari tertulis dan uji instruksi terstruktur. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Harsawardana.

Rektor mengatakan, mahasiswa yang lulus uji kompetensi ini akan mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai asisten kebun.

Uji kompetensi asisten kebun merupakan proses penilaian untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, dan sikap kerja seorang calon atau praktisi asisten kebun sesuai dengan standar industri perkebunan. 

Peserta merupakan mahasiswa yang telah menyelesaikan tugas akhir (skripsi), dan telah mengikuti yudisium yang akan diwisuda pada Mei 2026.

"Tujuan dari uji kompetensi ini memastikan individu tersebut layak dan mampu mengelola afdeling atau unit kebun secara profesional dan efisien," ujarnya. 

Dr. Ir. Harsawardana mengatakan, sertifikasi dan uji kompetensi ini merupakan bagian dari penyelenggaraan pendidikan bagi mahasiswa penerima beasiswa yang dibiayai oleh BPDP. 

Selama berkuliah di INSTIPER, mahasiswa penerima beasiswa mengikuti serangkaian kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi melalui kegiatan perkuliahan dan praktikum, praktek lapang dan magang, dan juga mengikuti kegiatan ko-kurikuler yang didesain untuk membekali mahasiswa dengan skill tertentu. 

"Sertifikat kompetensi yang akan diterima mahasiswa merupakan sertifikat pendamping ijazah. Artinya, saat lulus nanti, selain ijazah, mahasiswa juga mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai asisten kebun," kata Rektor. 

Rektor menambahkan, lewat uji kompetensi ini, mahasiswa dapat membuktikan kompetensinya di bidang perkebunan seperti yang dipelajari selama mereka kuliah.

Sertifikat ini juga menjadi bukti nyata keahlian atau kompetensi seseorang dalam melakukan manajemen budidaya komoditas perkebunan pada level asisten. 

"Sertifikat kompetensi ini dapat menjadi daya tawar saat akan memasuki dunia kerja," terangnya. 

Kendati demikian, Rektor berpesan kepada para peserta agar memberikan kontribusi nyata bagi perkebunan di Indonesia setelah lulus dan memiliki sertifikat kompetensi. 

"Kalau kembali ke masyarakat, bangun lah perkebunan rakyat. Atau jika bekerja di perusahaan, bekerjalah secara profesional," pungkasnya.