Jakarta, Elaeis.co - Tak ingin terus menjadi importir daging, Kalimantan Selatan (Kalsel) menetapkan program percepatan swasembada sapi potong sebagai salah satu fokus pembangunan tahun ini. Ditargetkan, ke depan Kalsel bisa menyuplai ke daerah lain.
Demi mewujudkan ambisi mempercepat swasembada daging daerah, Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel mengajak delapan perusahaan sawit untuk mengintegrasikan pengembangan perkebunan sawit dan peningkatan produksi peternakan sapi. Kedelapan perusahaan itu khusus diundang bertemu Gubernur Kalsel Safrizal ZA membahas masalah tersebut, kemarin.
Menurut Safrizal, program integrasi sawit-sapi berbasis kemitraan usaha ternak inti plasma (Siska Ku Intip) merupakan solusi untuk menghentikan ketergantungan daging dari luar daerah. Di saat yang sama, kesejahteraan peternak lokal pun bisa meningkat tajam dan dapat membantu menurunkan angka pengangguran di Kalsel.
“Kalau peternakan sapi dikembangkan, akan diikuti pengembangan bisnis produk turunannya. Seperti bisnis pengolahan daging menjadi produk lain, yang tentu dapat menyerap tenaga kerja,” katanya, dikutip Antara.
Sekda Kalsel, Roy Rizali Anwar, menambahkan, permasalahan sawit dan program gabungan sawit dan peternakan menjadi perhatian khusus dan menjadi prioritas Pemprov Kalsel karena perkebunan kelapa sawit merupakan penyumbang devisa terbesar bagi Kalsel setelah pertambangan.
Ia berharap ke depan bisa dimaksimalkan sehingga harga sapi bisa lebih murah dibandingkan dari harga sapi yang didatangkan dari luar daerah. “Selain itu, perputaran ekonomi jadi lebih cepat di Kalsel,” katanya.
Strategi yang disiapkan sebagai pendukung adalah pemanfaatan lahan sawit, pemanfaatan limbah industri sawit, dan limbah kelapa sawit, sebagai pakan. Selain itu penguatan infrastruktur untuk peternakan, penguatan pasok ternak dan hasil ternak, serta regulasi dan deregulasi.
“Benefit yang kami harapkan adalah terciptanya korporasi antara pekebun dan peternak, sehingga menghasilkan produksi sapi berbiaya rendah, meningkatkan produksi sawit, peningkatan pendapatan perkebunan dan peternak,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perkebunan Kalsel, saat ini populasi ternak sapi baru mencapai 180 ribu. Sentra ternak terbesar di Kalsel ada di Kabupaten Tanah Laut yang menguasai 60 persen produksi ternak Kalsel.
Pada 2020 Kementerian Pertanian memasok sedikitnya 38 ribu indukan sapi ditambah program daerah sebanyak 25 ribu ekor. Ditargetkan, melalui program ini, akan ada penambahan populasi sapi di Kalsel satu juta ekor dalam lima tahun ke depan.
Pemerintah menargetkan pengembangan sektor peternakan minimal lima ekor untuk tiap hektar kebun sawit, sementara di Kalsel perkebunan sawit tercatat seluas 530 ribu hektar.
Kejar Swasembada, Perusahaan Diajak Integrasikan Sapi-Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini