Jakarta, elaeis.co — Industri kelapa sawit nasional mulai merasakan hantaman keras akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang berdampak pada jalur perdagangan global, termasuk kawasan strategis seperti Selat Hormuz, memicu lonjakan biaya logistik dan menekan ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengungkapkan bahwa dampak konflik tersebut telah menyebabkan penurunan ekspor sawit Indonesia secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Ekspor Februari–Maret itu turun sekitar 30 persen ke semua negara. Ini akibat perang, karena biaya freight dan insurance naik sampai 50 persen,” ujar Eddy menjawab awak media di sela-sela perayaan HUT ke-45 GAPKI di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu 29 April.
Lonjakan biaya logistik itu membuat harga sawit menjadi kurang kompetitif dibanding minyak nabati lain, sehingga sejumlah negara importir mulai beralih ke substitusi. “Mereka menggantikan dengan minyak nabati lain karena transport-nya mahal. Ini yang membuat ekspor kita turun,” katanya.
Efek domino: DMO terganggu, harga berpotensi tertekan
Penurunan ekspor tersebut tidak hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga memicu efek berantai di dalam negeri. Salah satunya adalah terganggunya skema Domestic Market Obligation (DMO) yang selama ini berbasis pada volume ekspor.
“DMO itu dasarnya ekspor. Ketika ekspor turun, otomatis DMO juga ikut turun. Jadi ini bukan karena perusahaan enggan memasok dalam negeri,” jelas Eddy.
Ia menegaskan, distribusi minyak goreng domestik tetap terjaga dan tidak ada indikasi kelangkaan. Namun, jika kondisi ini berlanjut, risiko kelebihan stok bisa muncul dan justru menekan harga sawit di dalam negeri. “Kalau ekspor turun dan stok melimpah, itu bisa menekan harga dalam negeri. Itu juga tidak bagus.”
B50 dan dilema pasokan: dalam negeri aman, ekspor terancam
Di tengah tekanan global, pemerintah tetap mendorong implementasi mandatori biodiesel B50. Dari sisi pasokan domestik, GAPKI memastikan kebutuhan energi dan pangan tetap aman. “Dalam negeri tidak usah khawatir, semua terpenuhi. Baik untuk pangan maupun energi,” tegas Eddy.
Namun, peningkatan konsumsi dalam negeri ini berpotensi mengurangi fleksibilitas ekspor, terutama jika permintaan global kembali melonjak. “Kalau permintaan dari negara importir meningkat, belum tentu bisa kita penuhi semua. Yang akan terkoreksi pasti ekspor.”
El Nino dan kenaikan biaya hantui 2026–2027
Tekanan industri tidak berhenti pada faktor eksternal. Dari dalam negeri, ancaman penurunan produksi juga membayangi akibat kombinasi cuaca ekstrem dan kenaikan biaya produksi.
Eddy menyebut, harga pupuk telah naik hingga 30 persen akibat dampak konflik global, sementara potensi El Nino diperkirakan akan mengganggu produktivitas kebun.
“Kalau pemupukan tidak jalan dan El Nino terjadi, produksi bisa turun 1–2 juta ton tahun ini. Tahun depan bisa lebih parah,” ujarnya.
Yang lebih dikhawatirkan adalah dampaknya terhadap petani kecil yang cenderung mengurangi pemupukan akibat mahalnya biaya.
PR lama: PSR masih lambat
Di tengah meningkatnya kebutuhan global, Indonesia justru menghadapi stagnasi produksi. Salah satu penyebab utamanya adalah lambannya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). "Peremajaan sawit rakyat sangat lambat. Ini yang menyebabkan produksi kita stagnan,” kata Eddy.
Padahal, menurutnya, peluang pasar global masih terbuka lebar. “Dunia butuh sawit. Dunia butuh kita. Tapi itu harus diimbangi dengan peningkatan produksi dan produktivitas.”
Jalan keluar: produktivitas dan inovasi
Untuk jangka panjang, GAPKI mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi, termasuk penggunaan serangga penyerbuk dan penguatan sumber daya genetik.
“Kita ingin menunjukkan bahwa sawit tidak identik dengan deforestasi, tapi bisa ditingkatkan lewat intensifikasi,” ujarnya.
Ia optimistis inovasi ini akan kembali mendongkrak produksi seperti yang pernah terjadi pada 1980-an saat introduksi serangga penyerbuk pertama kali.
Sawit tetap jadi penopang di tengah krisis
Meski dihantam berbagai tekanan—mulai dari konflik geopolitik, biaya logistik, hingga ancaman cuaca—industri sawit dinilai tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional.
“Di setiap krisis, sawit selalu menyelamatkan ekonomi Indonesia. Termasuk sekarang, meski ekspor turun, kita tetap menghasilkan devisa,” kata Eddy.
Namun, ia mengingatkan, tanpa pembenahan struktural—mulai dari kepastian hukum lahan hingga percepatan PSR—Indonesia berisiko kehilangan momentum di tengah meningkatnya permintaan global.-
Konflik Timur Tengah Guncang Sawit, Ekspor RI Terpukul hingga 30
Diskusi pembaca untuk berita ini