Banda Aceh, elaeis.co – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh menggelar acara Meuseuraya Festival untuk mendukung Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal naik kelas.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Rony Widijarto P, menjelaskan, Meuseuraya Festival digelar sebagai bentuk dukungan untuk menumbuhkan ekonomi Aceh melalui pengembangan UMKM.

Menurutnya, Aceh memiliki ragam potensi sumber daya alam yang melimpah yang dapat menjadi sumber ekonomi. Namun sumber tersebut perlu diolah agar menghasilkan ragam produk yang bisa memberikan nilai tambah.

“Atas dasar itulah kami melakukan upaya bersama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Aceh dengan mengembangan UMKM khususnya di bidang pangan,” jelasnya dalam pernyataan resmi dikutip Kamis (14/11).

"Kemajuan infrastruktur dan konektivitas yang dimiliki Aceh harus dimanfaatkan untuk membantu mengembangkan hilirisasi," lanjutnya.

Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal ZA, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap bisa mendorong UMKM lebih maju.

“95 persen penopang ekonomi negara kita ada pada sektor UMKM. Karena itu UMKM perlu terus didukung,” kata Safrizal.

Menurutnya, industri perbankan harus ikut membantu pengembangan UMKM melalui pembiayaan maupun pendampingan usaha.

“UMKM butuh bantuan bagaimana supaya produknya menarik perhatian, memiliki branding yang bagus. Maka bantulah hadirkan para ahli untuk membantu pelaku usaha mengembangkan produknya,” tukasnya.

Pemerintah Aceh sendiri akan mengembangkan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan dan dapat diperbaharui. Komoditas yang akan terus didorong terutama dari sektor tumbuhan dan hewani. “Misalnya nilam dan kelapa sawit yang merupakan produk unggulan Aceh,” sebutnya.

Terkait pengembangan nilam, dia mengaku akan menyurati Direktur Bank Indonesia agar membantu menghadirkan investor untuk mendirikan pabrik pengolahan minyak nilam berskala internasional di Aceh.

"Aceh memiliki bahan baku utama dan lokasi yang strategis. Minyak nilam Aceh kualitasnya terbaik di dunia. Namun selama ini Ache hanya mengekspor bahan baku ke luar negeri. Produk olahan yang dihasilkan belum ada yang berskala nasional, apalagi internasional,” paparnya.

Sementara terkait hilirisasi sawit, menurutnya, Pemprov Aceh akan mendorong pendirian pabrik minyak goreng pertama di daerah itu. Dia menilai sudah selayaknya Aceh memiliki pabrik produk turunan dan tidak cuma menghasilkan CPO.

“Mohon kepada pihak perbankan, kalau ada yang mengajukan kredit pendirian pabrik minyak goreng, tolong dipermudah,” pungkasnya.