Bengkulu, elaeis.co - Kabar gembira bagi petani sawit di Provinsi Bengkulu, pasalnya harga pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kini mencapai kisaran Rp 1.870 hingga Rp 2.000 per kilogram.

Setelah beberapa bulan mengalami fluktuasi, harga tersebut merupakan level tertinggi, yang mendorong kemampuan para petani dalam membayar angsuran kredit di berbagai lembaga keuangan.

Baca Juga: Perusahaan Kelapa Sawit Didorong Tingkatkan Budaya K3, Gubernur Rohidin: Harus Jadi Prioritas Utama

Abdul Rahman Habibi (32), seorang petani sawit di Bengkulu, menyatakan bahwa lonjakan harga TBS kelapa sawit menjadi Rp 2 ribu per kilogram memberikan dampak positif bagi rekan-rekannya.

"Banyak petani tidak bingung lagi kalau mau bayar kredit di bank, karena harga TBS kelapa sawit sudah mencapai Rp 2 ribu," ujarnya dengan senyum lebar, Selasa (22/8) kemarin.

Baca Juga: Berupaya Zero Karhutla, Ini Langkah-langkah yang Dilakukan Pemkab Inhu

Kondisi ini juga mendapat tanggapan dari pihak perbankan. Plt Direktur Bank Bengkulu, Jufrizal, menyebutkan  lonjakan harga TBS kelapa sawit memberikan kepastian bagi petani dalam melunasi angsuran kredit.

"Kami melihat banyak petani yang mulai dapat membayar angsuran dengan lebih lancar karena pendapatan mereka meningkat," kata Jufrizal.

Baca Juga: Petani Sawit di Bengkulu Berhasil Raih Keuntungan Besar dengan Berkebun Bawang Merah

Tidak hanya petani, para pelaku usaha di sekitar sektor kelapa sawit juga merasakan manfaat dari kenaikan harga TBS ini. Darmawan, seorang pedagang alat pertanian di Pasar Panorama Kota Bengkulu, menjelaskan lonjakan harga ini telah meningkatkan daya beli para petani.

"Saya melihat petani kini lebih antusias untuk berinvestasi dalam peralatan pertanian," ujarnya.

Namun, beberapa pihak juga mengingatkan akan fluktuasi harga yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Ekonom Bengkulu, Retno Eka Putri, menekankan pentingnya bagi petani untuk tetap waspada dan bijak dalam mengelola pendapatan tambahan akibat lonjakan harga ini.

"Kenaikan harga TBS merupakan peluang, tetapi juga perlu disikapi dengan hati-hati mengingat sifat pasar yang bisa berubah-ubah," tutup Retno.