Jakarta, elaeis.co - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) bertemu dengan para pemangku kepentingan bisnis minyak sawit berkelanjutan dunia yang bergabung dalam Forum Nachhaltiges Palm (FONAP) di Jerman baru-baru ini. Hal ini merupakan bagian dari strategi kelembagaan petani guna melakukan pendekatan secara langsung kepada pembeli minyak sawit berkelanjutan dunia.

FONAP atau Forum didedikasikan untuk Sustainable Palm Oil dan berisikan Multi Stakeholder Partnership (MSP) yang terdiri dari 50 lebih pebisnis, Asosiasi, Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM, Kementerian Pangan dan Pertanian Jerman (The German Federal Ministry of Food and Agriculture - BMEL) dan Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (The German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development - BMZ).

Didirikan pada tahun 2015, tujuan utama FONAP adalah mendorong penggunaan minyak sawit berkelanjutan yang berasal dari rantai pasok pertanian yang lestari. Kelembagaan ini telah berkomitmen mendukung pengelolaan sawit yang berkelanjutan di negara-negara produsen. 

Gebrakan tersebut tentu dapat meningkatkan pemanfaatan minyak sawit berkelanjutan dalam produk pangan, pakan ternak, serta berbagai produk turunan lainnya, dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan prinsip keberlanjutan di seluruh mata rantai pasok.

Para anggota FONAP dari dunia usaha menjalin kolaborasi dengan sesama anggota untuk mengatasi berbagai tantangan, termasuk kepatuhan terhadap standar Hak Asasi Manusia (HAM) dan persyaratan sertifikasi keberlanjutan. Upaya ini dilakukan secara kolektif, tidak secara individual, demi memastikan penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan secara menyeluruh.

Sebagai organisasi multi-stakeholder (MSP), FONAP menjalin berbagai bentuk kerja sama dan terus mendorong kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan. Bersama para anggotanya, FONAP berkontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan akan pasar minyak sawit berkelanjutan—yang hingga kini masih terbatas pada sebagian pelaku usaha, baik di negara produsen maupun konsumen.

Upaya ini sekaligus memperkuat keberlanjutan pasar Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) yang telah dihasilkan berdasarkan standar RSPO dan telah diperdagangkan sejak tahun 2011. Melalui FONAP, para anggotanya didorong untuk berpartisipasi aktif dan berkontribusi dalam produksi serta pembelian berbagai produk berbasis minyak sawit berkelanjutan.

Untuk mencapai tujuannya, FONAP menerapkan berbagai pendekatan, termasuk pemantauan terhadap komitmen sukarela para anggotanya. FONAP juga mendorong pembangunan berkelanjutan dan perbaikan berkesinambungan melalui sistem sertifikasi, serta menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar keberlanjutan, termasuk kriteria tambahan yang kemungkinan akan dibutuhkan di masa depan.

FONAP mendorong pengembangan solusi bersama untuk mencapai penggunaan 100% minyak sawit (CSPO) dan minyak inti sawit (CSPKO) berkelanjutan yang tersegregasi, termasuk berbagai produk turunannya. FONAP juga menjalankan proyek-proyek dengan petani kecil di negara-negara produsen, guna mendorong penerapan praktik budidaya berkelanjutan, pemulihan ekosistem, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), sebagai organisasi petani yang memiliki visi sejalan dengan FONAP dalam mendorong produksi minyak sawit berkelanjutan, resmi bergabung sebagai anggota FONAP pada tahun 2024. Keanggotaan ini memperkuat komitmen FONAP dalam melibatkan petani kecil sebagai aktor kunci dalam rantai pasok berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam peningkatan kapasitas, akses pasar, dan penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan.

Ketua Umum SPKS, Sabarudin, menyatakan bahwa keanggotaan SPKS dalam FONAP bertujuan untuk mendorong berbagai inisiatif keberlanjutan melalui kolaborasi dengan anggota lainnya, demi meningkatkan kesejahteraan petani sawit di masa depan. "Melalui kehadiran SPKS di FONAP, kami berharap dukungan terhadap petani kelapa sawit serta perluasan pasar untuk minyak sawit berkelanjutan asal Indonesia dapat terus berkembang," katanya.

Pada pertemuan FONAP yang berlangsung pada akhir April 2025, Sabarudin meyakinkan para pembeli minyak sawit anggota FONAP bahwa petani dapat memproduksi sawit berkelanjutan, bebas deforestasi, dan dengan sistem ketelusuran yang baik. SPKS juga menyampaikan kekhawatirannya terkait skema kredit RSPO yang saat ini banyak tidak dapat dijual oleh petani sawit, karena tidak adanya pembeli yang tertarik, khususnya yang bergantung pada pasar Eropa, yang mensyaratkan ketertelusuran. 

Hal ini menjadi masalah, mengingat RSPO selama ini menjadi landasan kuat dalam mempromosikan minyak sawit berkelanjutan di pasar Eropa. "Harapannya, seluruh produksi CSPO yang dihasilkan oleh petani kelapa sawit Indonesia dapat dibeli dan dikonsumsi oleh para pelaku usaha yang tergabung dalam FONAP,” tegasnya.

SPKS meminta agar anggota FONAP mendukung dan mendorong RSPO untuk memastikan bahwa petani sawit dapat diintegrasikan langsung dalam rantai pasokan yang dapat dilacak secara fisik, serta dijual langsung dalam rantai pasokan global. Hal ini bertujuan untuk memastikan manfaat yang lebih adil dan memberikan akses pasar yang lebih baik bagi petani.

Terpisah, Dr M. Windrawan Inantha, Deputi Direktur Transformasi Pasar RSPO (Indonesia) menyampaikan terima kasih atas masukan dari SPKS tersebut. “Saat ini, kami sedang menguji potensi integrasi petani swadaya bersertifikat RSPO ke dalam rantai pasokan fisik melalui kemitraan dengan perusahaan dan pabrik yang juga bersertifikat RSPO. Kami bekerja sama dengan IDH Indonesia untuk memfasilitasi kolaborasi antara petani swadaya bersertifikat RSPO di Aceh Tamiang dan PT Mora Niaga Jaya, salah satu perusahaan/pabrik bersertifikat RSPO,” terangnya kepada elaeis.co, Jumat (2/5).

"Kolaborasi ini tidak hanya akan berfokus pada peningkatan keberlanjutan minyak sawit, tetapi juga mengembangkan kemitraan inklusif dan memberikan manfaat bagi setiap pihak yang terlibat. Saya juga mengajak semua pihak yang tertarik untuk mendukung inisiatif ini, termasuk SPKS, agar petani swadaya dapat naik kelas dan bertransaksi dalam perdagangan fisik sawit berkelanjutan yang tertelusur,” tambahnya.