Jakarta, elaeis.co – Sektor perkebunan kelapa sawit dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk mempercepat pemulihan ekonomi wilayah Sumatera pasca-bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 lalu.
Namun, pengembangan sawit harus dilakukan pada lahan yang tepat dan dikelola secara berkelanjutan.
Pengamat Ekonomi Pertanian sekaligus peneliti Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO), Diana Chalil, menyebutkan bahwa dibandingkan komoditas perkebunan lain, kelapa sawit memiliki dampak berganda (multiplier effect) yang lebih besar terhadap pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana.
“Budidaya kelapa sawit pada lahan yang sesuai dapat menjadi kunci pemulihan ekonomi pasca bencana. Sawit memberikan manfaat ekonomi, sosial, bahkan lingkungan jika dikelola dengan benar,” ujar Diana, Selasa (10/2).
Menurut Diana, pengalaman pascabencana tsunami Aceh 2004 menunjukkan bahwa sawit menjadi pilihan utama petani karena dinilai lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Banyak kebun sawit rakyat berkembang dari konversi komoditas lain yang sebelumnya kurang produktif.
Secara nasional, sektor pertanian masih menjadi penopang utama devisa negara. Dari total pendapatan devisa nasional, sekitar 73 persen berasal dari sektor pertanian, dengan minyak kelapa sawit sebagai kontributor terbesar melalui ekspor.
“Di tingkat regional, sawit juga menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar di Aceh. Sementara di Sumatera Utara, sawit menempati posisi tiga besar komoditas penyumbang devisa,” jelasnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, industri sawit memiliki peran signifikan dalam menyerap tenaga kerja. Secara nasional, sektor ini tercatat menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk di sektor hulu, hilir, dan jasa pendukung agribisnis sawit.
Diana juga memaparkan hasil riset CSPO yang menunjukkan peningkatan pendapatan masyarakat setelah beralih ke budidaya kelapa sawit. Di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, misalnya, pendapatan rata-rata masyarakat meningkat dari sekitar Rp31,8 juta per tahun menjadi Rp42,1 juta per tahun.
“Ini membuktikan bahwa sawit berpotensi besar mendorong pemulihan ekonomi di Sumatera, khususnya di Aceh dan Sumatera Utara,” katanya.
Meski demikian, Diana menegaskan bahwa perkebunan sawit bukan penyebab bencana alam yang terjadi. Ke depan, tantangan utama adalah memastikan tata kelola sawit dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Bukan soal memperluas lahan, tetapi memastikan sawit ditanam di lokasi yang tepat, sesuai kemampuan lahan, menjaga keseimbangan lanskap, serta memiliki akses pasar yang baik,” pungkasnya.
Tanam Sawit di Lahan Tepat Jadi Jalan Keluar Pemulihan Ekonomi Sumatera
Diskusi pembaca untuk berita ini