"Lonjakan tertinggi terjadi pada olahan CPO; dari 1,923 juta ton menjadi 2,971 juta ton," terangnya. 

Adapun musabab lonjakan tadi kata lelaki 64 tahun ini lantaran pemerintah memutuskan zero levy --- Pungutan Ekspor (PE) distop --- yang kabarnnya akan berlaku hingga akhir tahun ini. 

"Relaksasi ini sangat membantu eksportir. Daya saing produk minyak sawit Indonesia membaik di pasar global disaat persaingan dengan minyak nabati lain tinggi," katanya.

Bekas birokrat di Kementerian Pertanian ini kemudian merinci, impor India atas produk sawit Indonesia itu naik 193%; dari sekitar 370 ribu ton menjadi 1,086 juta ton. China juga begitu, naik 68%; dari sekitar 524 ribu ton menjadi sekitar 879 ribu ton dan Uni Eropa, naik 51,7%; dari sekitar 334 ribu ton menjadi sekitar 506 ribu ton.

Kenaikan ekspor itu didukung pula oleh kenaikan produksi sebanyak 503 ribu ton, dari yang tadinya 3,8 juta ton menjadi 4,3 juta ton. "Produksi ini naik, selain faktor musiman, juga lantaran PKS sudah beroperasi normal," ujarnya. 

Hanya saja kata Mukti, secara tahun ke tahun, sampai bulan Agustus, produksi 2022 yang sebesar 31,6 juta ton justru lebih rendah ketimbang produksi 2021 yang mencapai 33,6 juta ton. 

Soal harga CPO tadi, Ketua DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung mengingatkan, keberlanjutan pada industri sawit itu tidak lagi hanya ditengok pada aspek lingkungan, tapi juga aspek ekonomi dan sosial. 

"Harga TBS petani itu bagian dari aspek ekonomi. Kalau perbedaan harga TBS dan harga produk hilir sangat jomplang, enggak bisa disebut keberlanjutan. Harga TBS petani dan produk hilir itu harus berkeadilan lah," pintanya saat berbincang dengan elaeis.co tadi pagi. 

Agar harga TBS itu berkeadilan kata lelaki 49 tahun ini, sudah saatnya acuan penetapan harga TBS tidak lagi melulu pada harga CPO, tapi sudah harus kombinasi dengan harga produk turunannya. 

"Itu kalau kita jadikan harga ekspor menjadi acuan. Gimana pula kita mau menjadikan harga ekspor CPO menjadi satu-satunya acuan harga TBS disaat ekspor CPO kita cuma 7 persen?" katanya.