Doktor ilmu lingkungan Universitas Riau ini tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika yang 13,5 juta metrik ton itu tidak lagi terserap.
Soalnya Program Biodiesel ini baru didera persoalan saja, sudah berdampak kepada harga tender minyak sawit di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Dari yang tadinya Rp11.300 perkilogram langsung anjlok ke Rp9.800 perkilogram.
"Harga minyak sawit yang anjlok ini langsung connect kepada 17 juta petani sawit lho. Gimana pula kalau Program Biodiesel itu dihentikan," ujarnya.
Oleh karena sensitifnya industri sawit itu kata Gulat, semua pihak harus mau bersama-sama menjaga agar sawit itu berkelanjutan.
Di Riau sendiri, upaya ini sudah dilakukan, bahkan oleh Kejaksaan Tinggi Riau (Kejati) dengan menyodorkan Program JAGA ZAPIN (zona perekonomian, perindustrian dan perkebunan) yang dilanjutkan dengan peluncuran program "Kebijakan Penegakan Hukum Kolaboratif dalam Mendukung Investasi dan Peningkatan Perekonomian Masyarakat di Sektor Perkebunan Sawit".
Saking seriusnya, Kejati Riau langsung menghadirkan 12 Kajari dan 12 Bupati/Walikota Se Riau untuk Komit mendukung ekonomi sawit Riau melalui MoU.
"Kedua program ini sangat berhasil. Ini enggak lepas dari ketegasan Kajati Riau, Dr. Supardi, SH.,MH menjaga ekonomi masyarakat Riau yang 37% ekonomi Riau memang digendong oleh hulu-hilir sawit," ujar Gulat.
Kombinasi Jaga Zapin dan Penegakan Hukum Kolaboratif yang dilakukan Kejati Riau kata Gulat, telah membikin harga TBS Riau menjadi yang tertinggi se Indonesia pada 6 bulan terakhir dan Riau menjadi satu-satunya provinsi yang punya harga penetapan Disbun untuk mitra swadaya.
"Saya rasa, sudah saatnya pemerintah mengapresiasi investasi industri sawit nasional secara terukur. Ingat, ekonomi Indonesia bisa bangkit dan berlari dengan cepat usai pandemi, itu lantaran ditopang oleh industri kelapa sawit dan sawit telah menjadi "jenderalnya" ekonomi Indonesia," katanya.
Dan patut pula dipahami bersama kata Gulat, bahwa sesugguhnya, dunia sangat ketakutan dengan teknologi energi hijau (biodisel, bensin sawit, avtur). Sebab, teknologi energi hijau ini akan membikin suplai minyak sawit kepada mereka akan berkurang.
"Kita juga patut waspada akan propoganda agen-agen asing yang sengaja 'dilepasliarkan' untuk merecoki strategi bioenergi minyak sawit Indonesia dengan berbagai modus" katanya.
"Yuk kita bangun satu pemahaman dan satu pandangan tentang sawit Indonesia bahwa Indonesia harus menjadi "jenderalnya" sawit dunia," pintanya.
Biodiesel, Program Non APBN yang Untungkan Negara. Harga Sawit Petani Terdongkrak, GRK Turun
Diskusi pembaca untuk berita ini