Data ekspor juga penting karena menunjukkan seberapa kuat pembeli dari luar negeri menyerap produk sawit Malaysia.
Meski CPO melemah, ada faktor yang menahan penurunan lebih dalam, yakni harga minyak mentah dunia yang sedang menguat.
Kenaikan harga minyak mentah dapat memberikan keuntungan bagi CPO karena minyak sawit juga digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Ketika minyak fosil menjadi lebih mahal, penggunaan minyak nabati sebagai sumber energi bisa semakin menarik.
Namun, penguatan ringgit Malaysia menjadi sentimen yang kurang menguntungkan. Ringgit menguat 0,07% terhadap dolar AS sehingga CPO Malaysia menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.
Dengan kondisi tersebut, pasar sawit kini masih menunggu data terbaru. Laporan MPOB pada 10 Agustus akan menjadi salah satu kunci untuk melihat apakah pelemahan harga CPO hanya sementara akibat aksi ambil untung atau berpotensi berlanjut.
Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, pergerakan harga CPO Malaysia juga layak diperhatikan karena dapat menjadi salah satu gambaran arah pasar sawit global.
Harga CPO Tertekan! Kontrak September Ambruk, Data MPOB Jadi Penentu Nasib Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini