Ketua Umum GAPKI Eddy Martono pada kesempatan terpisah memprediksi,  untuk program B40 diperkirakan akan menyedot minyak sawit sebanyak 14 juta ton, dan untuk B50 akan menyedot 17,5 juta ton. 

Dalam kaitan menggerus ekspor, B40 diperkirakan akan menurunkan volume ekspor sebesar 2 juta ton. Sedangkan B50 akan menurunkan 6 juta ton.

Sementara itu, ketersediaan sawit di sektor hulu cukup mengkhawatirkan karena produksi sudah stagnan di kisaran 50 juta ton per tahun. 

Sedangkan pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) masih jauh dari harapan. Dari target 180.000 hektar per tahun, yang dicapai masih di bawah 30%.

Jika program biodiesel dengan bauran tinggi ingin berhasil, maka tidak bisa tidak sektor hulu harus dibereskan terlebih dahulu, utamanya dengan mendorong percepatan PSR. 

Hal ini telah juga menjadi perhatian pemerintah. Edi Wibowo mengatakan, untuk mendukung program mandatori biodiesel tanpa mengganggu pasokan minyak sawit untuk kebutuhan lain, maka produksi dan produktivitas harus ditingkatkan.

Yakni, dengan cara meningkatkan program peremajaan sawit rakyat. Selain itu, ujar Edi Wibowo, dengan memanfaatkan lahan kritis atau bekas tambang untuk mengembangkan hutan energi khusus untuk pemenuhan bahan baku biodiesel. 

Juga tak kalah penting adalah upaya diversifikasi  bahan baku non-pangan.