Proses pemangkasan (pruning) adalah kegiatan membuang pelepah sawit yang tidak produktif seperti pelepah yang rusak atau patah pada saat panen dan juga pelepah yang kering. Miftah dipercaya menyatukan kinerja 6 anggota yang melakukan pemangkasan di lahan seluas 567 hektar.
Di usianya yang masih muda, Miftah mengaku ada tantangan tersendiri dalam memimpin tim di sektor yang mayoritas pekerjanya adalah laki-laki. Namun, hal itu tak menggentarkan Miftah dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, gaung kesetaraan gender telah sampai dan diimplementasikan di bidang pekerjaan yang ia geluti.
“Selagi kita punya mental dan kemampuan untuk mengelola sebuah tim, kita bisa menjadi supervisor di sini,” ungkapnya penuh keyakinan.
Miftah mengakui banyaknya perubahan yang ia alami setelah mengikuti program Beasiswa Sawit. Dulu, ia hanyalah seorang anak petani sawit dan hanya bisa mengenali bentuk pohon sawit saja. Banyak pengetahuan yang ia dapat dibanding sebelum masuk program hingga akhirnya kini ia benar-benar turun langsung ke lapangan dan bekerja di sektor pengolahan kelapa sawit.
“Sekarang saya tahu bagaimana cara merawat kelapa sawit dan meningkatkan produktivitasnya,” bebernya.
Meski iklim kerjanya sangat keras dan berat, Miftah mengaku betah bekerja di sektor pengolahan kelapa sawit ini. Layaknya generasi muda lainnya, Ia pun masih ingin terus berkembang, baik secara kemampuan maupun tanggung jawab. “Saya ingin meningkatkan karir,” tegasnya.
"Saya bercita-cita suatu hari nanti pulang ke kampung halaman untuk membagikan ilmu, cerita dan pengalaman berkiprah di industri pengolahan kelapa sawit. Saya berharap kelompok tani lokal mengembangkan produktivitasnya, semakin naik daya saingnya dengan pemain besar," tukasnya.
Beasiswa Sawit, Cara BPDPKS Cetak SDM Andalan
Diskusi pembaca untuk berita ini