Jakarta, elaeis.co - Organisasi Santri Tani Nahdhatul Ulama (Santri Tani NU) marah besar dengan adanya perusahaan dalam negeri yang menyudutkan sawit Indonesia melalui produk-produknya seperti cokelat dilabel 'Palm Oil Free'.  

Berdasarkan informasi dari media sosial, perusahaan itu bernama PT Korte Chocolate, yang didirikan oleh Jeffry Lukito dan Suhadi Nugraha pada tahun 2014, di Surabaya, Jawa Timur. 

"Kami sangat terusik. Ini keterlaluan, dan pengkhianatan kepada bangsa karena perusahaan tersebut berdiri dan tumbuh di Indonesia," kata KH. T. Rusli Ahmad, selaku Ketua Umum DPP Santri Tani NU, kepada elaeis.co, Sabtu (30/12). 

Rusli Ahmad sangat tersinggung karena kampanye negatif sawit malah mencuat di dalam negeri. "Kalau black campaign itu datangnya dari negara produsen minyak nabati selain sawit, tidak menjadi persoalan, mungkin sebagai bagian strategi politik dagang," paparnya.

Menurut Rusli, hasil penelusuran Tim iT Santritani NU, bahwa merek cokelat yang dipasarkan perusahan tersebut sudah mendapatkan lebel halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama. 

"Kami minta kepada Kementerian Agama sesegera mungkin mencabut label halal perusahaan itu, kami secepatnya akan bersurat secara resmi ke BPJPH," tegasnya. 
 
Merek cokelat tersebut, menurutnya, harus dibasmi dari negeri ini, dan perusahaannya seyogyanya ditindak tegas.

"Mereka melabeli Palm Oil Free telah menggangu multiplayer efek dari hulu-hilir sawit. Apabila ini dibiarkan akan berdampak buruk, daya beli masyarakat menurun serta mengusik market dari produk itu sendiri," pungkasnya. 

Rusli Ahmad meminta Kapolri memerintahkan jajarannya mengusut perusahaan tersebut, yang diduga sengaja melabelkan Palm Oil Free di semua produk cokelat mereka, termasuk memeriksa izin-izin serta pajaknya.

Pasalnya, jika hal seperti ini dibiarkan tentu akan menjadi preseden buruk bagi negara. Sebab Indonesia merupakan produsen minyak sawit dunia, hampir 60% minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. 

"Santri Tani NU sangat berkepentingan dalam hal mengamankan hulu-hilir industri sawit ini, karena 68% anggota Santri Tani adalah petani sawit dan 80% petani sawit Indonesia itu adalah warga Nahdliyin. Siapapun yang menyudutkan hulu-hilir sawit, kami akan berada di  garda terdepan menghalaunya. Silahkan beragumen secara ilmiah, silahkan berbisnis dengan tanpa menyudutkan pihak lain, apalagi dengan melakukan bentuk-bentuk kampanye negatif," ungkapnya.