Lampung, elaeis.co - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sumatera Bagian Barat mencatat prestasi yang bikin melongo. Hingga triwulan III 2025, penerimaan kepabeanan dan cukai di Lampung meledak jadi Rp1,76 triliun. 

Bukan sekadar tembus target, tapi nyaris tiga kali lipat. Angkanya meroket 208,65% dari target awal Rp842,22 miliar.

Kepala Bagian Umum DJBC Sumbagbar, Wahyudi Arianto, menyebut capaian ini sebagai bukti Lampung makin menggeliat. “Ini pencapaian luar biasa yang menunjukkan geliat ekonomi Lampung,” ujarnya, Sabtu (1/11).

Dibanding tahun lalu, peningkatannya naik 171,94%. Jadi wajar kalau Lampung lagi banyak senyum, apalagi yang jadi “mesin uangnya” adalah komoditas paling hits yakni sawit. 

Dari empat sumber penerimaan Bea Cukai, bea keluar alias ekspor lah yang jadi “juragan besar”. Nilainya tembus Rp1,51 triliun. Kenaikannya? Jangan kaget: 507,11% dari tahun sebelumnya!

Biang kerok “ledakan cuan” ini adalah tingginya harga minyak kelapa sawit (CPO) di pasar global. Jadi, setiap ton CPO yang keluar negeri, Lampung kebagian duit lebih banyak.

Meski sawit mendominasi, penerimaan dari pos lain juga ikut menyumbang pundi pemasukan. Realisasi bea masuk tercatat sebesar Rp227,11 miliar. Angkanya memang turun sekitar 41,33% karena impor gula dan beras menurun, tapi nilainya tetap terbilang besar dan masih memberi dorongan positif.

Penerimaan cukai justru menunjukkan tren naik dengan nilai Rp14,2 miliar. Lonjakan sekitar 43,03% ini didorong oleh peningkatan denda administrasi cukai serta melonjaknya permintaan pita cukai rokok (CK-1). Sementara itu, Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) juga punya kontribusi besar, mencapai Rp1,26 triliun, yang berasal dari setoran PPh Impor dan PPN Impor.

Wahyudi membeberkan bahwa komoditas ekspor Lampung yang paling mendominasi antara lain kopi, CPO dan minyak inti sawit, serta minyak goreng sawit. Ketiganya sama-sama mencatat kenaikan signifikan, menegaskan posisi Lampung sebagai salah satu pemain kuat komoditas perkebunan nasional.

Dengan performa “on fire” seperti ini, tak berlebihan kalau Lampung disebut lagi berada di puncak kejayaan sawit. Harapannya, cuan triliunan ini tidak hanya berhenti di angka laporan, tapi benar-benar ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.