Tajuk 

Pekebun Sawit

Pekebun Sawit
Para pekebun sawit yang berhadapan dengan keberingasan korporasi di Talang Tujuh Buah Tangga, Inhu, Riau. foto: aziz

Pekebun sawit. Sudah lebih dari seperempat abad nama ini bergema, bahkan berdengung hingga ke telinga Antonio Gutteres. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa asal Portugal ini tahu betul seperti apa orang-orang di Eropa bergunjing soal pekebun kelapa sawit.

Dan tahu betul negara-negara mana saja di Eropa yang perlahan mem-phase out-kan sawit lantaran lelaki 72 tahun ini juga Presiden Dewan Eropa. 

Juga tahu betul seperti apa strategisnya Pekebun sawit dalam jejaring bisnis internasional serta aturan main Sustainable Development Goals (SDGs).

Oleh kestrategisan pekebun sawit itulah makanya Lembaga Pembangunan Tanah Federal Malaysia atau Federal Land Development Authority (FELDA) Malaysia hadir langsung menyelesaikan semua unek-unek pekebun sawitnya. Pokok pekebun sawit diurusi.

Baca juga: Quo Vadis Beasiswa Sawit

"Bahkan menyediakan lahan sawit untuk rakyat," dalam sebuah obrolan dengan elaeis.co, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menceritakan itu. 

Di Indonesia, lahan pekebun sawit sudah mencapai 6,7 juta hektar. Luasan ini setara dengan 42% dari 16,38 juta hektar total luas kebun kelapa sawit di Indonesia kata Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Heru Tri Widarto, dalam sebuah webinar. 

Dari 42% tadi, lebih dari 65% atau lebih dari 4,3 juta hektar adalah tanaman milik pekebun swadaya, pekebun yang segala sesuatunya dia usahakan  sendiri, tanpa campur tangan pemerintah. 

Gara-gara aktifitas pekebun swadaya ini, jalan-jalan terbuka lebar, pemerintah desa tertolong, tanpa harus pusing menganggarkan duit untuk pembangunan jalan. Sebab sudah rahasia umum, pekebun sawit yang kemudian disuruh urunan untuk membikin jalan. 

Oleh hasil panen pekebun swadaya dan pekebun PIR, ribuan bahkan puluhan ribu tengkulak, pabrik-pabrik pengolah kelapa sawit, tukang pupuk, racun, angkong, egrek, gancu hingga bank, mendulang cuan dari hasil keringat para pekebun itu. Tukang kredit hingga penjual cendol juga ikut mendapat guyuran cuan tadi. 

Termasuklah tukang 'palak' berbaju dinas ikut mencicipi hasil keringat pekebun itu.  

Hitungan PASPI menyebutkan, perputaran duit di perdesaan oleh kehadiran pekebun sawit mencapai Rp59,8 triliun pertahun dan di kota malah lebih bengkak lagi; Rp202,1 triliun pertahun. Ini diluar pundi-pundi negara yang membengkak oleh devisa hasil jualan sawit. 

Dari sisi lingkungan, dunia juga tertolong lantaran setiap hektar sawit rakyat itu menyerap 64 ton karbon dan menghasilkan 18,7 ton oksigen dari luasan sawit yang sama. 

Tak cukup digit kalkulator standar untuk mengalikan serapan karbon dan hasil oksigen itu dengan luasan kebun sawit rakyat tadi. 

Belakangan, persis sejak tahun 2016, pekebun sawit juga sudah menyumbang membikin Biodiesel untuk dijual Pertamina. Tapi sampai sekarang, entah seperti apa bentuk duit untung penjualan biodisel itu, pekebun sawit ini tak pernah tahu. 

Padahal, tak sedikit sebenarnya para pekebun sawit ini harus bertarung nyawa mempertahankan haknya dari keberingasan oknum korporasi. Kebun sawit yang hanya selebar 'sapu tangan' hasil dari menjual warisan di kampung halaman. 

Sangat beruntung sebenarnya Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) punya pekebun sawit yang tak neko-neko. Tak punya waktu untuk menghadirkan petugas penyuluh perkebunan sawitpun, pekebun tak marah. Pupuk subsidi yang nyaris tak dirasakan pekebun, juga tak membikin pekebun marah. 

Pekebun sawit tetaplah pekebun sawit yang mandiri tanpa mau menyusahkan orang lain, apalagi pemerintah. 

Tengok sajalah, meski Ditjenbun mengambil alih beasiswa sawit dan membikin aturan main yang menambah puyeng, pekebun hanya bisa mengelus dada, paling banter mengomel sedikit. 

Dibilang menambah puyeng lantaran mereka masih berhadapan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang terkesan 'memaksa' mereka untuk mengakui kalau sebahagian kebun mereka mencaplok kawasan hutan. 

Sejatinya, Ditjenbun paham akan pahit getirnya para pekebun sawit untuk memperbaiki hidup dan kehidupannya dan kemudian berandil besar kepada bangsa dan negara.

Tapi itu tadilah, boro-boro memberikan kemudahan untuk kembali mengulang sejarah hidup para pekebun lewat peremajaan sawit, duit beasiswa sawit yang jumlahnya kata Ketua Umum DPP Apkasindo hanya sebanyak bunga satu hari duit Pungutan Ekspor (PE), tak bisa leluasa dirasakan oleh para pekebun sawit itu. 

Lagi-lagi mereka hanya bisa mengurut dada dan kembali sadar diri bahwa mereka, apapun ceritanya, tetaplah hanya pekebun. Buktinya, sampai hari ini, mereka belum bisa menjadi pekebun sekaligus pe-pabrik sawit. Oooalah...

Editor: Abdul Aziz