Medan, Elaeis.co - Selama pandemi, pundi-pundi petani sawit makin bertambah karena harga tandan buah segar (TBS) terus naik. Namun belakangan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional mengalami fluktuasi, harga TBS pun terimbas. Para petani mulai cemas, berharap harga TBS yang terus turun dalam empat pekan terakhir tidak berkepanjangan.
Situasi yang terjadi sekarang sebenarnya sudah diprediksi sejak awal tahun ini oleh pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Dr Ir Tungkot Sipayung. “Pada bulan Januari 2021 sudah saya katakan, kenaikan harga CPO selama masa pandemi Covid-19 paling maksimal hanya akan terjadi sampai bulan Juni,” katanya kepada Elaeis.co, Senin (21/6).
Seolah menjadi kenyataan, pada bulan ini CPO maupun TBS benar-benar mengalami penurunan harga. “Tapi saya yakin, penurunan harga CPO dan TBS tidak akan terlalu dalam seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu,” katanya.
Menurutnya, penurunan harga disebabkan oleh kenaikan produksi TBS dan CPO. “Dan akan semakin mendekati tingkat produksi idealnya pada bulan Juli nanti,” sebutnya tanpa merinci lebih jauh.
Situasi produksi di dalam negeri, menurutnya, sudah dibaca oleh pasar global. “Semua harga minyak sawit, termasuk harga TBS, adalah cerminan dari pasar internasional,” tukasnya.
Agar tidak tergantung pada situasi pasar, dia menyarankan seluruh stakeholder sawit di Indonesia bersatu agar memiliki kekuatan mengatur harga CPO dan TBS. “Harus kita pahami bahwa berapa banyak CPO yang kita ekspor, justru akan mempengaruhi harga di pasar global,” jelasnya.
“Agar power itu bisa terwujud, menjalankan program biodiesel 30 dan hilirisasi lebih banyak produk berbasis sawit adalah kuncinya,” tambahnya.
Penurunan Harga TBS Sudah Diprediksi Sejak Awal Tahun
Diskusi pembaca untuk berita ini