Lipsus 

Begini Cara Sahat Bikin Orang UEA Melek Sawit

  • Reporter Aziz
  • 31 Oktober 2021
Begini Cara Sahat Bikin Orang UEA Melek Sawit
Ketua DMSI, Saat Sinaga saat diwawancarai juga oleh Wiyldmedia di Dubai. foto: tangkapan layar

Jakarta, elaeis.co - Tak Sahat namanya kalau setiap ditanya, dia tidak menyodorkan cerita menarik dan data yang detil. 

Termasuk kepada Gulf Today yang mencekokinya delapan pertanyaan, panjang dan jelimet. "Saya sengaja menjelaskan dengan detil apa itu sawit dan memberitahu mereka bahwa di Indonesia banyak rakyat atau petani yang mengelola tanahnya menjadi kebun sawit dan banyak juga petani sawit mengkonversi sawah atau kebun lain menjadi kebun sawit. Setelah saya cerita, baru mereka ngeh," cerita sahat kepada elaeis.co, kemarin. 

Nah, setelah menjelaskan soal apa dan seperti apa manfaat sawit, magister teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kemudian mengurai apa yang kemudian terjadi kalau sempat kelapa sawit tak ada. 

"Data historis menunjukkan bahwa saban tahun kebutuhan 17 jenis minyak dan lemak nabati dunia sekitar 3%-5%. Anggaplah pertumbuhan kebutuhan tahunan 3%. Ini berarti, tiap tahun harus ada pertambahan 7,23 juta ton minyak," ayah tiga anak ini mengurai.

Baca juga: Untung Saat Terbang ke Dubai

Kalau kemudian minyak rapeseed dijadikan sebagai sumber utama, maka saban tahun dibutuhkan lahan baru (hutan) sekitar 10,34 juta hektar atau 103.427 kilometer persegi. 

Luasan kebutuhan tahunan ini setara dengan 1,23 kali ukuran tanah Uni Emirat Arab (UEA) luasnya hanya 83.600 kilometer persegi. 

Tapi kalau kelapa sawit dijadikan sebagai bahan baku utama, dengan produktivitas 7 ton kelapa sawit per hektar per tahun, maka lahan baru yang dibutuhkan saban tahun hanya sekitar 1,03 juta hektar atau 0,12 kali ukuran tanah UEA.

"Kalau kita tengok angka-angka itu, berarti minyak sawit mampu memenuhi permintaan  pertumbuhan dunia dengan meminimalisir  deforestasi lantaran produktifitasnya 10 kali lipat ketimbang minyak nabati lain," Sahat mengurai. 

Di dunia ini kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) ini, ada 35 negara penghasil minyak sawit. Sebelas negara di Afrika; 12 negara di Amerika Tengah dan Selatan, 9 negara di Asia dan 3 negara di Oceania.

"Semua produsen minyak sawit itu berada di sabuk khatulistiwa," terangnya.

Dari 35 negara penghasil minyak sawit tadi, Indonesia memproduksi 59% dari total volume produksi tahunan minyak sawit (palmitic base) dan minyak inti sawit (lauric base) dunia. 

"Artinya Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Dan ini berarti pula, Indonesia menjadi negara yang paling berperan meminilisir deforestasi jika dikaitkan dengan pertumbuhan kebutuhan akan minyak nabati setiap tahun itu," ujarnya.

Selain dua jenis minyak tadi, kelapa sawit juga punya hasil sampingan seperti cangkang (arang), bahan selulosa dan lumpur yang mengandung pupuk hayati tinggi. Orang juga sering bilang Bio Organic Fertilizers (BOF). 

"Hitung-hitungannya begini; tiap satu ton kelapa sawit, ada 10 ton biomassa yang sangat bermanfaat bagi kehidupan dan tanaman. Ini memang belum dikembangkan. Kita butuh mitra dari UEA untuk mengeksplorasi dan mengembangkan bio massa ini," katanya

Dari semua kelebihan sawit itu, yang teramat penting juga adalah bahwa di dunia ini ada miliaran orang yang masih berada dalam kondisi miskin dan kekurangan gizi. 

Minyak sawit tentu menjadi teramat penting lantaran meski nilai gizinya tinggi, harganya lebih bisa dijangkau mereka lantaran jauh lebih murah dari minyak nabati lainnya. 
 
Beres menceritakan itu semua, Gulf ternyata masih ingin tahu apa yang ingin disampaikan dan ditawarkan oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia atau Indonesia Palm Oil Board (IPOB) kepada dunia di Dubai Expo.

"Di Indonesia ada 3 pemain perkebunan kelapa sawit; Badan Usaha Milik Negara dengan porsi 0,98 juta hektar atau 6% dari total luas kebun kelapa sawit Indonesia yang mencapai 16,38 juta hektar. Lalu ada pula perusahaan swasta dan publik besar yang memiliki perkebunan 8,68 juta hektar atau 53% dan yang terakhir adalah pekebun rakyat dengan luas perkebunan 6,72 juta hektar atau 41%," lagi-lagi Sahat mengurai. 

Kepentingan IPOB kata Sahat adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat dunia, bahwa sekarang para pekebun sawit rakyat di Indonesia sedang berusaha melakukan dua hal besar. 

Pertama, peremajaan yang mencapai 75%. Ini harus dilakukan untuk meningkatkan produktifitas hingga tiga kali lipat. Artinya dengan peremajaan itu diharapkan produksi kebun petani bisa mencapai 24 ton per hektar per tahun. 
 
Tentu semua itu dilakukan dengan praktik pertanian berkelanjutan – bersertifikat – demi mencapai 17 SDGs program PBB itu.

Yang kedua, petani sedang berusaha punya pabrik minyak sawit, inti sawit dan bahan biomassa. Upcycling Economy Frame Work dipakai biar tanah perkebunan lebih bagus. Dengan begitu, emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akan bisa berkurang sekitar 33,9 juta CO2 eq/tahun.

"Dua upaya di atas butuh waktu sekitar 7-8 tahun, dari tahun 2022–2030 dan untuk ini dibutuhkan dana bantuan (pinjaman) sebesar USD29,4 miliar," katanya. 

Kalau konsep di atas berjalan kata Sahat, ada 3 hal penting yang bakal kesampaian. Pertama, volume pengurangan emisi GRK akan signifikan saban tahun.

Pengentasan kemiskinan di kalangan petani akan terjadi lantaran telah muncul nilai tambah sekitar 62% di atas harga buah sawit. "Produk petani akan lestari dan sesuai dengan kebutuhan pasar global," ujarnya. 

Langkah awal yang musti dilakukan petani menuju ke sana tentu, petani jangan lagi sendiri-sendiri, tapi sudah harus punya kelembagaan. Bisa dalam bentuk koperasi atau kelompok tani berbadan hukum. 


 

Editor: Abdul Aziz