Sementara Gubernur Riau, Syamsuar menyampaikan apresiasi atas hadirnya program tersebut. Sebab program tersebut menjadi fasilitas bagi KUD dan Pelaku UMKM di Riau.  "Kita berharap program ini mampu menumbuh kembangkan industri UMKM berbasis petani kelapa sawit," terangnya. 

Dari pengamatannya industri perkelapasawitan indonesia beberapa bulan terakhir ini mengalami cobaan serius. Hingga berdampak juga terhadap harga pembelian tandan buah segar (TBS). Pemerintah sendiri telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Malah provinsi Riau telah menetapkan visi dan misi yakni terwujudnya provinsi Riau yang berdaya saing, sejahtera, bermartabat dan unggul di Indonesia (Riau Bersatu).

"Pembangunan sektor perkebunan dilaksanakan dengan mengacu misi ke tiga yakni membangun ekonomi yang inklusif, mandiri dan berdaya saing dengan tujuan mewujudkan perekonomian yang mandiri dan berdaya saing," jelasnya.

Sesuai dengan visi misi tersebut, Syamsuar mengaku mendukung program Aspek-PIR tersebut. Malah dia menyambut baik hadirnya program Bikopra.

"Kita mendukung program ini untuk sebagai solusi untuk mengembangkan industri perkebunan kelapa sawit di Riau. Sementara dalam implementasinya diharapkan Aspek-PIR bersinergi dengan pemerintah, dunia usaha dan KUD yah didukung dengan tersedianya potensi lahan dan permodalan. Semoga program ini dapat mengangkat perekonomian para pelaku usahanya dan mengelola industrinya secara profesional," tandasnya.

Program ini juga tak lepas dari dukungan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).