Jambi, elaeis.co - Seperti wilayah lainnya, perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi juga mengalami penurunan produksi. Bahkan tahun ini penurunannya mulai dari 20 sampai 25 persen.
Ketua Bidang Hukum& advokasi DPW APKASINDO Provinsi Jambi, Dermawan Harry Oetomo, mengatakan turunnya produksi tersebut terjadi sejak November 2022 lalu. Hingga kini penurunan masih dirasakan para petani kelapa sawit di wilayah itu.
"Bisa jadi kondisi ini terjadi sampai akhir Maret atau awal April mendatang," ujarnya, Senin (27/2).
Menurutnya, musim trek --begitu sebutan para petani kelapa sawit-- tahun ini berjalan cukup lama. Ini bisa jadi lantaran dampak iklim ekstrim yang terjadi hampir di seluruh wilayah sentra perkebunan kelapa sawit di nusantara.
"Tentu harapan kita pemerintah peduli dengan kondisi saat ini. Dimana petani saat ini butuh solusi untuk menjaga produktivitas kebun kelapa sawitnya meski masuk pada musim kemarau ini. Minimal ada edukasi skala prioritas bagi petani," tuturnya.
Salah satu bentuk bantuan yang sangat ditunggu organik adalah subsidi pupuk yang kemudian diprioritaskan untuk petani yang tengah mengajukan program PSR.
"Karena agar kelembagaannya menjadi proaktif dalam menjaga kualitas dan kuantitas produksinya," jelasnya.
Lewat kelembagaan tadi, katanya, kesejahteraan petani akan semakin terjamin, sementara kebun juga terjaga dengan baik.
"Kelembagaan itu menaungi petani sawit swadaya yang hanya punya 2-4 hektar saja. Jadi akan lebih maksimal sasarannya," tuturnya.
Cara ini kata dia juga untuk memancing antusiasme petani kelapa sawit swadaya untuk ikut menggalakkan program PSR. Puncaknya target kelapa sawit berkelanjutan oleh pemerintah tercapai
Mulai November, Produksi Kebun di Jambi Turun 25 Persen
Diskusi pembaca untuk berita ini