Jambi, elaeis.co - Petani kelapa sawit yang berdomisili di Kecamatan Tebo Tengah atau tepatnya di Desa Sungai Keruh, Kabupaten Tebo, Jambi, kini tengah dilanda dilema. Pasalnya, kebun plasma yang mereka miliki tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Kebun tersebut merupakan kebun yang dibangun oleh PT  Satya Kisma Usaha (KSU). Dimana dalam operasional kebun dilakukan langsung oleh perusahaan tersebut.

Namun belakangan, terjadi segenap persoalan yang membuat 300 petani dengan luas lahan 1.040 hektar itu menjadi puas. Malah cenderung membuat kecewa dan bersedih.

Petani menilai pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan perusahaan itu justru cenderung banyak kejanggalan. Hasil kebun yang turun lantaran banyak tanaman yang tidak dipanen. Akibatnya buah busuk di pohon.

Lalu informasinya banyak buah busuk juga karena terlambat memuat TBS untuk dibawa ke pabrik karena infrastruktur yang licin.

Sejak beberapa bulan bekangam petani hanya menerima Rp1,5 juta tiap hektar/bulannya. Ini karena banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh petani.

Menurut Ketua Bidang Hukum & Advokasi DPW APKASINDO Provinsi Jambi, Dermawan Harry Oetomo, peraturan perusahaan tersebut tidak jelas (ambigu). Sedangkan, menurut dia, aturan yang seperti ini yang seharusnya diberantas.

"Bukankah tidak lebih baik jika mempekerjakan masyarakat desa itu sendiri. Terus kenapa justru mempekerjakan orang lain, bukannya lebih baik 300 anggota calon petaninya saja," ujarnya.

Dermawan juga mempertanyakan sikap koperasi yang dinilai tidak tegas dengan situasi tersebut. Hal ini tentu menimbulkan banyak kejanggalan dan kecurigaan di kalangan petani.

"Kita khawatir menjadi konflik sosial," jelasnya.

Selain itu lingkungan kepemerintahan juga harus hadir di tengah masyarakat. Mulai dari perangkat desa hingga pemerintah daerahnya.

"Ini bisa diadukan ke Pemda atau Kadisbun Kabupaten. Petani juga dapat menggandeng asosiasi seperti APKASINDO dan sebagainya untuk menyelesaikan permasalahan ini," tandasnya.