Ricky memperkirakan, belanja pupuk dan herbisida dengan harga saat ini mencapai Rp 29 juta per hektare.
"Padahal sebelumnya hanya Rp 11 juta. Tentu saja petani kebingungan dibuatnya, pasalnya bantuan PSR yang diterima hanya Rp 30 juta per hektare," sebutnya.
Dia khawatir Program PSR yang bertujuan mendongkrak produktivitas kebun rakyat terancam gagal jika petani kelapa sawit dibiarkan hanya mengandalkan dana hibah Rp 30 juta.
"Program PSR akan berantakan jika kenaikan harga pupuk dan herbisida ini tidak dikendalikan segera, makanya pemerintah pusat harus membantu petani kelapa sawit di daerah salah satunya memberi bantuan pupuk," tuturnya.
Jika tidak bisa memberikan bantuan pupuk, pemerintah pusat diminta menaikkan anggaran bantuan PSR ke petani menjadi Rp 60 juta per hektare.
"Kalau tidak dibantu pupuk, ya mungkin solusinya naikkan dana PSR. Ini mengingat biaya PSR naik hampir 50 persen akibat naiknya harga pupuk dan herbisida," tutupnya.
PSR Terancam Berantakan, Pemerintah Pusat Diminta Ambil Langkah ini
Diskusi pembaca untuk berita ini