Jakarta, elaeis.co – Indonesia diminta mengubah strategi menghadapi tekanan perdagangan global terhadap komoditas kelapa sawit. Di tengah munculnya berbagai hambatan dagang dan aturan baru yang berpotensi membatasi akses pasar, diplomasi sawit dinilai tidak bisa lagi hanya bersifat reaktif.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, Indonesia perlu membangun diplomasi sawit yang lebih proaktif. 

Menurutnya, diplomasi bukan sekadar menjadi alat penyelesaian ketika konflik perdagangan sudah terjadi, tetapi harus berfungsi sebagai instrumen membaca potensi ancaman pasar sejak awal.

“Diplomasi sawit yang baik adalah ketika kita berhasil meredam atau mencegah timbulnya kebijakan negara lain yang merugikan industri sawit nasional. Karena itu, diplomasi sawit seharusnya bekerja sebagai market intelligence,” kata Tungkot.

Ia menilai, persaingan perdagangan sawit global saat ini semakin kompleks. Berbagai negara mulai menerapkan kebijakan baru dengan alasan perlindungan lingkungan, keberlanjutan, hingga standar produksi. 

Namun, dalam praktiknya, sejumlah aturan tersebut dinilai dapat menjadi hambatan perdagangan yang memberikan tekanan lebih besar terhadap minyak sawit Indonesia.

Karena itu, Indonesia harus bergerak lebih cepat dalam memahami arah kebijakan negara tujuan ekspor. Dengan begitu, pemerintah dan pelaku industri bisa menyiapkan strategi sebelum aturan baru diberlakukan.

Menurut Tungkot, langkah diplomasi sawit yang dilakukan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya telah memberikan hasil positif. 

Salah satu keberhasilannya terlihat dari strategi diversifikasi pasar ekspor yang membuat Indonesia tidak lagi terlalu bergantung pada kawasan tertentu.

Saat ini, minyak sawit Indonesia telah dipasarkan ke berbagai negara, seperti India, China, Pakistan, Bangladesh, negara-negara Afrika, Uni Eropa, hingga Amerika Utara.

“Pangsa Uni Eropa sebagai tujuan ekspor kita tinggal 8-10 persen. Jadi dengan diversifikasi negara tujuan ekspor tersebut, kita tidak lagi tergantung pada pasar Uni Eropa,” ujarnya.