Lalu tantangan kedua ialah terkait keberlanjutan, terlebih dari total produksi minyak sawit Indonesia yang mencapai 53 juta ton, sekitar 70 persennya diekspor. Sementara 30 persen diserap di tingkat domestik. Dimana pasar utama minyak sawit adalah India, China, Uni Eropa dan Pakistan.
Untuk pasar Uni Eropa kata Tofan, menuntut sustainability, namun demikian persyaratan aspek keberlanjutan menjadi keniscayaan supaya bisa bertahan.
"Sustainability ini memastikan kelapa sawit tetap eksis dan berkelanjutan, terlebih pemerintah sudah komit untuk tidak menambah lahan, kendati produktivitas sawit rakyat masih menjadi PR besar," kata dia.
Sementara tantangan ketiga, ialah terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang berdampak serius terhadap industri sawit. “Sebab itu, kita harus sering duduk bersama,” tandas Tofan.
Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto menilai, sampai saat ini kondisi petani kelapa sawit terutama petani swadaya tidak mengalami perubahan, kendati pemerintah telah menerbitkan beragam kebijakan.
Untuk itu ia mendorong ke depan membangun kemitraan harus menguntungkan dan sejajar. Dalam konteks kemitraan harus menguntungkan secara bersama, baik petani maupun pabrik kelapa sawit.
“Selama ini apakah kemitraan petani sudah seimbang dan sejajar, adil dan menguntungkan? Apakah pabrik sawit bersedia membagi saham kepemilikannya dengan petani?," tutur Darto.
Sampai saat ini juga kata Darto, petani masih belum memiliki daya tawar tinggi dan tidak bisa menentukan harga TBS sawit, serta bagaimana posisi tawar koperasi dengan pabrik sawit.
"Ke depan, berikanlah kesempatan masyarakat untuk mengelola kelapa sawit. Namun itu butuh kebijakan yang nyata,” tandas Darto.
Meraba Keberlangsungan Industri Sawit Indonesia
Diskusi pembaca untuk berita ini