Nusantara Bisnis Internasional 

Soal Sawit, Eropa Proteksionisen

Soal Sawit, Eropa Proteksionisen
Ilustrasi sawit/Reuters

Jakarta, Elaeis.co - Tidak lama lagi, ketergantungan Indonesia terhadap Eropa dalam pemasaran minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan terlepas. Soalnya, Indonesia sudah punya Afrika.

Afrika merupakan konsumen baru CPO Indonesia. Bahkan sudah mendekati Eropa sebagai salah satu konsumen terbesar CPO Indonesia.

"Kalau sekarang ini, Eropa memang penting bagi kita. Sebab, Eropa masuk tiga besar konsumen CPO Indonesia. Tapi kita tidak akan mengemis kepada Eropa. Kalau mereka tidak mau (CPO), silahkan. Ada batasnya kita bernegosiasi," kata Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung dalam wabinar ditengok Elaeis.co, Minggu (12/9).

Ketidakkhawatiran itu muncul karena saat ini Indonesia juga sudah punya Afrika, sebagai pasar baru CPO Indonesia.

"Tidak lama lagi, Afrika akan menjadi salah satu konsumen terbesar kita. Ekspor CPO Indonesia ke Afrika saat ini mulai meningkat, mengejar Eropa. Kita kasian saja lihat Eropa nantinya," kata Tungkot.

Menurut Tungkot, salah satu penyebab Eropa selalu melakukan black campaign karena harga CPO Indonesia lebih murah dan kompetitif dibanding biji rapa (rapeseed) dan biji bunga matahari (sunflower).

"Jadi begini, kebun sawit di Indonesia paling luas di dunia. Terus, produktivitas minyak sawit 10 kali lipat daripada produkvitas rapeseed, sunflower maupun kedelai. Itu lah penyebabnya kenapa kita bisa jual CPO lebih murah," kata dia.

Tungkot mengatakan, teori persaingan yang diterapkan Eropa terhadap Indonesia memang tidak sehat. Mestinya dalam persaingan bisnis, Eropa sebagai negara dan kawasan terdepan dalam memperjuangkan perdagangan bebas dunia, lebih sportif soal sawit Indonesia.

"Dalam teori persaingan bisnis, mestinya yang pertama itu dimainkan persaingan harga dulu. Kalau tidak mampu bersaing dengan harga, maka beralihlah ke persaingan non harga. Nah, karena eropa kalah bersaing harga, maka dibuatlah black campaign, bikin pajak impor tidak masuk akal dan lain-lain," kata dia.

"Kalau soal sawit Indonesia, Eropa adalah negara paling Proteksionisen, tidak ada Inkonsistensi sedikit pun," tambahnya.

Jadi, mulai sekarang jangan bilang Eropa merupakan wilayah ideal, artinya soal sawit ini menjadi bukti bahwa Eropa juga melindungi kepentingan nasional-nya. Karena itu mereka tidak menerima harga CPO Indonesia lebih murah daripada rapeseed dan sunflower yang notabenenya komuditi Eropa.

"Kalau mereka tidak menerima, tak masalah. Hanya saja pangsa rapeseed dan sunflower di Eropa akan terus kalah dengan sawit. Itu yang menganggu secara politik di sana. Karena parlemen di sana juga memperjuangkan subsidi untuk pertaniannya. Kalau tidak laku rapeseed dan sunflower, bisa juga masalah di politik toh," kata dia.

Editor: sahril ramadana