Limapuluh Kota, elaeis.co - Bupati Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Safaruddin Dt. Bandaro Rajo,  mengakui kondisi harga yang fluktuatif menyebabkan sejumlah petani di daerahnya enggan mengembangkan komoditas kelapa sawit.

"Sawit kan sama saja dengan komoditas perkebunan lainnya, yaitu harganya gampang berfluktuasi," ujar Bupati Safar kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Minggu (26/3).

Kondisi demikian, menurut mantan anggota DPRD Sumbar itu, sama saja dengan gambir dan karet --komoditas perkebunan andalan masyarakat setempat--, yang harganya di pasaran sangat fluktuatif.

Merujuk data di bps.go.id, pada tahun 2020 luas areal perkebunan gambir di Kabupaten Limapuluh Kota tercatat 16.574 hektar, sementara luas areal perkebunan karet 17.650 hektar.

Bupati Safar juga tak menampik faktor tradisi yang menyebabkan masyarakatnya tetap bersikukuh membudidayakan tanaman gambir. "Usaha itu kan sudah diwarisi secara turun-temurun, tidak gampang beralih ke komoditas lain," ungkapnya.

Apalagi, tambah mantan Ketua DPD II Partai Golongan Karya Kabupaten Limapuluh Kota itu, sejak beberapa waktu belakangan nilai jual gambir kembali mulai membaik di pasaran, melebihi angka Rp30.000/kg di tingkat pedagang pengumpul.

Pantauan elaeis.co di lapangan, petani dan pekerja di ladang gambir kembali tampak bergairah menyusul mulai membaiknya nilai jual gambir di pasaran. Kalau sebelumnya jarang melewati angka Ro20.000/kg, belakangan sudah di atas Rp30.000/kg.

Yang nyaris tidak pernah membaik adalah karet, komoditas lain yang jadi andalan masyarakat setempat. Nilai jual karet masih bertengger di angka Rp6.000/kg di tingkat pedagang pengumpul. Angka itu jauh di bawah nilai penjualan tertinggi, yang pernah menyentuh angka Rp22.000/kg.